PPJAI

Agar  Industri Bisnis Jamu Tak Sepahit Pahitnya Jamu – Oleh: Mukit Hendrayatno

Agar  Industri Bisnis Jamu Tak Sepahit Pahitnya Jamu

Agar Binsis Jamu Tidak Pahit
Agar Binsis Jamu Tidak Pahit

Jamu bagaimanapun adalah warisan leluhur kita, sudah tidak diragukan lagi. Rusak dan pahitnya industry jamu karena kita (masyarakat dan pemerintah). Manis dan harumnya juga, tentu saja karena kita. Jamu adalah identitas dan wajah bangsa ini. Sebuah kewajiban untuk menjaganya bagi siapa saja yang merasa menjadi bangsa yang beradab, yang menghormati leluhur dan sejarah masa lalunya.

Baru saja kita melihat tayangan di sebuah stasiun televisi swasta mengangkat judul tentang “Pahitnya Industri Jamu” . Bercerita tentang pahitnya berbisnis jamu dengan berbagai aspeknya. Ditampilkan juga Peliputan secara langsung ke lokasi penggerebegan jamu illegal BKO (berbahan kimia obat). Pendapat muncul dalam berbagai sesi disampaikan, diantaranya oleh Kepala BPOM Jawa Tengah, Pelaku usaha dari sukoharjo, bahkan sekilas Presiden Jokowidodo juga memberikan komentar tentang perlunya penguatan BPOM agar pengawasan peredaran Jamu dan makanan illegal makin kuat.

Setiap informasi tentu saja tidak akan mampu memberikan seluruh informasi yang utuh atas suatu kejadian atau objek. Hal tersebut bisa dipahami karena sumber dan durasi menjadi ruang sempit yang seringkali tidak bisa dikompromikan dengan sumber berita yang banyak. Apalagi bila sumber berita tersebut bertentangan antara satu sama lain dan tidak sesuai “framing” thema tentu menambah kesulitan lagi dalam teknis penyajian liputin.

Nada berita industry jamu dalam beberapa decade terakhir selalu diberitakan dalam wajah yang muram. Lebih khusus lagi tentang betapa tidak bertanggung jawabnya pelaku usaha jamu Ilegal dan praktek mencampur BKO (Bahan kimia obat) kedalam jamu. Citra ini semakin kuat muncul dimasyarakat karena hampir sedikit ulasan yang mengetengahkan kabar gembira dari industry kecil jamu khususnya didaerah Cilacap Banyumas dan sekitarnya.

Beberapa nada sumbang berita industry kecil jamu adalah fakta. Jamu berbahan kimia Obat adalah fakta , tentu saja hal itu tidak bisa ditutup tutupi. Banyaknya peraturan perizinan yang harus dipenuhi pelaku Industri jamu juga fakta, yang menjadi halangan yang cukup segnifikan bagi UKM dengan skill dan modal yang minim.Rancangan undang-undang yang sedang digodog oleh DPR dimana istilah jamu akan diganti dengan obat alam tentu bukan polemic kecil , mengingat terminology jamu adalah warisan yang mempunyai akar historis. Menjadi wajar ketika masyarakat bertanya kemana arah undang-undang itu sesungguhnya? .Fakta tambahan lainnya adalah sentiment negative dari masyarakat dan birokrasi terhadap industry kecil jamu ini khususnya di Barlingmascakeb, menambah kesulitan dalam menyelenggarakan bisnis UKM jamu semakin bertambah.

Bagi para pelaku rasanya sudah bosan mengupas masalah-masalah yang muncul dalam industry jamu ini. Khusus untuk daerah Cilacap-Banyumas dan sekitarnya dalam 2 dekade terakhir hampir wacananya mandek soal jamu illegal dan jamu BKO. Sudut pandang beritapun juga hampir tidak mau bergeser dari satu pelangaran ke pelanggaran yang lain.

Pertanyaan adalah , apakah industry jamu sepahit itu ?

Sesungguhnya setiap hujan badai akan mereda dan digantikan dengan rintik hujan dan semburat pelangi. Mari kita mulai memandang pelangi dalam industry kecil jamu ini, agar harapan kita tentang masa depan Jamu yang lebih baik muncul dan bisa didororng dalam kerja-kerja nyata. Buruknya citra jamu sesungguhnya menjelaskan tentang buruknya kita hari ini. Buruknya pemerintah sekaligus masyarakat yang tidak mampu menjaga dan melestarikan warisan leluhur yang notabennya milik bersama.

Jamu tidak bisa disangsikan lagi adalah kekayaan warisan luhur bangsa yang bisa jadi bila kita rawat menjadi satu indsutri kreativ yang memperkuat daya saing bangsa. Dalam diskursus wacana mestinya itu sudah final. Setiap Negara dan bangsa menggunakan akar sejarah  dan warisan leluhurnya untuk maju dan tetap relevan. Dalam konteks Indonesia, Jamu tentu saja salah satu yang tidak bisa ditawar lagi.

 

Perlu Sudut Pandang Baru

Mari kita lihat satu sudut pandang lain tentag industry jamu. Sesungguhnya industry jamu di Indonesia sedang tumbuh. Bahkan beberapa telah bermetamorfosis menjadi satu bentuk jamu yang lebih terkesan modern. Kita bisa melihat di apotik-apotik dimana jamu modern dalam sediaan kapsul dan cairan obat dalam madu mendapatkan pasar tersendiri dimasyarakat. Belum lagi bila kita melihat di marketplace seperti tokopedia. Kita bisa melihat pencarian herbal akan memunculkan tidak kurang dari 120.157 posting yang menjual produk dalam category itu. Sedangkan untuk kata kunci jamu sekitar 14.000 produk yang tertampil. Data lain adalah Izin Edar yang dikeluarkan BPOM cenderung meningkat missal ditahun 2015 sebanyak 2184 pada 2016 sebanyak 2761 atau naik sekitar 26%. Sedangkan untuk kasus perka jamu cenderung turun yakni sebanyak 282 kasus pada tahun 2015, 252 kasus pada tahun 2016 dan 215 kasus pada tahun 2017. Artinya meskipun belum signifikan data diatas menunjukan kegairaan usaha jamu meningkat  sedangkan kasus menurun.

Sudut pandang optimis lainnya adalah pertumbuhan pasar. Dalam teori pasar yang sederhana, adanya penjual yang banyak tentu saja karna ada pembeli yang banyak. Dalam kasus jamu juga demkian. Semisal untuk generasi muda memang lebih suka mengidentifikasikan jamu dengan herbal dan membeli produk jamu dengan harga middle up. Sedangkan untuk orang tua menggunakan terminology jamu yakni dalam sediaan serbuk, pill dan rajangan. Ternyata kecenderungan pemahaman terminology tersebut juga secara otomatis membuat kategorisasi pasar secara alami.

Baik yang masih dalam tampilan Jamu zaman old seperti serbuk, plinteng dan rajangan ataupun yang dalam kemasan modern kapsul, cairan semuanya menemukan pasarnya. Sebut saja diCilacap-Banyumas yang masih mempertahankan wajah jamu tradisional seperti GP mandiri dan Lestari jaya atau yang mencoba menampilkan jamu yang lebih modern seperti Denature, Bumi wijaya juga sedikit demi sedikit tumbuh. Begitupula masih banyak perusahaan jamu legal yang sampai hari ini masih bertahan dengan gayanya masing-masing. Di Sukoharjo , Solo , Bekasi, Semarang masih banyak UKM jamu yang mampu bertahan dan sedikit demi sedikit ikut meramaikan pasar Indonesia dalam kebutuhannya terhap obat alam.

Singkatnya pahitnya jamu sesungguhnya masih berpeluang untuk menjadi manis, anda tentu pernah minum beras kencur atau kunyit asam kan ?. Kira-kira sperti itulah dinamikanya… tidak semua jamu sepahit sambiloto tapi juga ada yang sesegar kunir asam. Kesegaran jamu untuk modal menatap hari esok yang lebih baik.

Agar  Industri Bisnis Jamu Tak Sepahit Pahitnya Jamu

Kebutuhan terhadapa Obat Trdisonal alami cukup besar. Tentu kita tidak rela pasar manis Indonesia dibanjiri produk impor yang tentu saja tidak bisa kita awasi lebih detail dan secara langsung. Pilihan terbaik kita adalah dengan menguatkan industry kecil jamu dalam negeri. Bilapun terdapat kesalahan tentu bisa dilakukan pengawasan dan pembinaan yang memadai. Contoh ekstrim di China , pemerintah secara meyakinkan melindungi pemalsu Merk-Merk terkenal dunia dan menghambat masuknya keran import dunia. Kita tentu tidak perlu seektrim itu, cukup untuk membina UKM lebih baik dan mentoleransi kesalahan-kesalahannya dengan dicari solusi bersama agar bertransformasi menjadi lebih baik.

Diantara hal yang perlu diperhatikan yang pertama adalah aturan dan perizinan. Bagi industry jamu yang sudah mapan hal tersebut bukanlah masalah besar. Namun bagi UKM Jamu rintisan persoalan ini menjadi persoalan yang besar, bahkan pada beberapa kasus membuat pelaku jamu patah arang. Perizinan pabrik jamu yang melewati level Kelurahan, Kabupaten, Propinsi, dan Pusat merupakan suatu rantai yang cukup melelahkan bagi UKM. Belum lagi perbedaan tafsir masing-masing daerah dalam memahami peraturan perundang-undangan yang ada. Apakah birokrasi mempersulit ? rasanya tidak adil bila kita hanya melimpahkan persoalan pada tata kelola birokrasi. UKM Jamu rintisan juga biasanya skill memiliki skill administrasi yang kurang mempuni. Kombinasi antara kedua factor ini membuat cerita duka tentang perizinan jamu terus muncul. Bila persoalan ini sudah pertahan 2 dekade mestinya kita berani mengambil langkah besar semisal membuat addhoc satu pintu khusus untuk menangani perijinan jamu baik pabriknya ataupun izin edarnya. Bilapun tidak demikian, paling tidak cara jemput bola perizinan seperti yang beberapa kali dilakukan BPOM ke daerah-daerah adalah langkah nyata yang sangat membantu UKM jamu rintisan. Disisi lain UKM Jamu rintisan juga harus mau belajar secara serius terkait memenuhi administrasi yang ada.

Kedua adalah tentang pengawasan dan pembinaan. Untuk menumbuhkan satu industry tidak hanya dibutuhkan pengawasan tapi juga pendampingan. Untuk UKM jamu rintisan tentu saja perlakuannya dibedakan dengan industry jamu illegal yang membahayakan masyarakat. Apakah pembedaan itu adil ? tentu saja adil karena adil dalam hal ini bermakna proporsional. Bagi UKM yang memiliki good will mengembangkan jamu dengan baik, pengawasan harus disertai dengan pembinaan. Karena hampir sulit setiap perubahan dan perbaikan tanpa kesalahan. Sebuah pameo lama mengatakan siapa saja yang tidak pernah salah biasanya tidak pernah berbuat apa-apa.

Disisi lain, Pembinaan UKM Jamu rintisan harus lebih serius khusunya dari kemetrian UKM dan Perindustrian. Negara tidak hanya mengamanatkan pengawasan dan pelarangan seperti yang tertuang dalam Permenkes. Tapi juga Negara mengamanatkan perlindungan dan dukungan terhadap UKM semisal melalui UU no.20 tahun 20018, PP No.32 tahun 1998 dan banyak lagi. Kedua stackholder ini penting untuk bisa mendorong industry kecil jamu yang tadinya rintisan menjadi Mapan dan dari yang mapan menjadi besar dan berdaya saing hingga keluar negeri.

Dan terakhir dan mungkin salah satu yang paling penting adalah Good will pelaku usaha jamu. Usahawan jamu adalah menjadi factor central dalam menentukan cerita masa depan jamu kedepan. Kesulitan-kesulitan yang ada tentu saja factual. Namun demikian sebuah fakta indah juga ada, seperti beberapa indsutri jamu muncul dan mampu bertahan. Sebut saja Deltomed salah satu indsutri jamu modern yang baru beberapa dekade ini tumbuh dengan luar biasa. Sidomuncul salah satu cerita keberhasilan yang hampir semua orang tau. Artinya usahawan jamu harus terus mau tumbuh dan berbenah. Karena hanya dengan cara itu usahawan mampu melewati berbagai tantangan yang ada.

Jamu bagaimanapun adalah warisan leluhur kita, sudah tidak diragukan lagi. Rusak dan pahitnya industry jamu karena kita (masyarakat dan pemerintah). Manis dan harumnya juga, tentu saja karena kita. Jamu adalah identitas dan wajah bangsa ini. Sebuah kewajiban untuk menjaganya bagi siapa saja yang merasa menjadi bangsa yang beradab yang menghormati leluhur dan sejarah masa lalunya.

 

Ditulis Oleh :

Mukit Hendrayatno Pemerhati & Pelaku UKM Jamu

Ketua PPJAI (perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia)

23 Februari 2018

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *