






AJIBARANG – Selama berabad-abad, rempah-rempah adalah alasan dunia mencari Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan itu seolah terpinggirkan oleh gaya hidup instan dan ketergantungan pada solusi kimia. Sabtu lalu (18/4), di hamparan hijau Bumiku Bumimu Hijau Farm, Ajibarang, sebuah narasi baru mulai ditulis: Indonesia tidak hanya ingin menjual rempah, tapi ingin berdaulat melalui mereka.
Jika selama ini kita melihat jahe, binahong, atau sambiloto hanya sebagai pelengkap di dapur, Deklarasi Gerakan Herbal dan Rempah Nasional mengubah perspektif tersebut. Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam acara tersebut, menegaskan sebuah visi besar. Rempah kini diposisikan sebagai “Pilar Ketahanan Pangan”. Ini berarti, kekuatan bangsa ke depan tidak hanya diukur dari stok beras, tetapi juga dari seberapa kuat sistem kesehatan alami dan asupan nutrisi berbasis kearifan lokal.
Salah satu poin paling menarik dalam gerakan ini adalah orasi ilmiah dari Yudhie Haryono. Ia menantang masyarakat untuk kembali ke akar—mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia dan menghidupkan kembali tradisi pengobatan alami.
“Rempah dan herbal adalah identitas kita,” ungkapnya. Pesannya jelas: kemandirian kesehatan adalah bentuk nyata dari rasa cinta tanah air. Dengan memanfaatkan apa yang tumbuh di pekarangan sendiri, setiap keluarga Indonesia sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan kesehatan yang paling mendasar.
Yang membuat deklarasi di Banyumas ini berbeda adalah lokasinya. Peserta tidak hanya duduk di balik meja, tetapi diajak langsung melihat Integrated System Farming. Di sini, kita melihat bagaimana peternakan (seperti susu etawa yang didorong sebagai solusi gizi) bersinergi dengan pertanian herbal.
Ini adalah pesan bagi para pelaku usaha dan petani: masa depan herbal ada pada hilirisasi dan integrasi. Produk herbal tidak boleh lagi tampil “kuno”. Ia harus inovatif, berstandar tinggi, namun tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan lingkungan.
Deklarasi ini bukan sekadar seremoni pembacaan teks. Melalui dialog intens antara Deputi Kemenko Pangan dengan para petani dan peternak, terlihat ada denyut harapan baru. Tantangan pasar dan kebijakan memang masih ada, namun sinergi yang terbangun di Banyumas menjadi bukti bahwa pemerintah dan rakyat mulai satu frekuensi.
Indonesia sedang bersiap untuk tidak lagi hanya menjadi penonton di pasar herbal dunia. Dari tanah Banyumas, gerakan ini mengajak kita semua untuk kembali memuliakan tanaman lokal. Sebab, di dalam setiap helai daun dan rimpang Nusantara, tersimpan jawaban bagi kesehatan dan kejayaan bangsa di masa depan.


