Day: June 24, 2025

  • Loka POM di Kabupaten Banyumas bersama PPJAI Selenggarakan Bimtek CPOTB bagi Linsek dan Pelaku Usaha Jamu

    Loka POM di Kabupaten Banyumas bersama PPJAI Selenggarakan Bimtek CPOTB bagi Linsek dan Pelaku Usaha Jamu

    Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM) mengadakan pertemuan dengan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) di kompleks Pabrik Tresno Jamu Indonesia, Mujur Lor, Kroya, pada Selasa, 26 Juni 2024.

    Dalam pertemuan yang sekaligus merupakan ajang silaturahmi ini, BPOM menyatakan bahwa PPJAI Wilayah Banyumas Raya telah bertransformasi di era digital dengan mempertahankan dan mengembangkan produk jamu herbal berkualitas tanpa bahan kimia obat (BKO).

    Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Anisyah, Kepala Loka POM Banyumas Winanto, Direktur PT Tresno Jamu Indonesia Mutriono, dan sejumlah pengusaha jamu dari PPJAI serta Tresno Jamu Indonesia.

    “Dulu kami awasi, larang, dan berikan sanksi. Kini kami ubah dengan pendampingan agar para pengusaha jamu taat regulasi sehingga produknya menjadi baik. Kami melihat perubahan transformasi benar-benar terjadi,” kata Mohamad Kashuri, usai meninjau Pabrik Tresno Jamu Indonesia, yang juga milik salah satu anggota PPJAI.

    Dikutip dari website purwokerto.inews.id, BPOM akan terus mengintensifkan pendampingan kepada para pelaku usaha, agar pertumbuhan mereka semakin maju.

    “Kami terus memudahkan registrasi dan memberikan bimbingan teknis kepada teman-teman supaya taat regulasi. Kami mengapresiasi PPJAI yang sudah menaungi para pelaku usaha, taat regulasi, serta memproduksi jamu yang aman, bermutu, dan diterima oleh pasar,” tambahnya.

    Banyumas Raya menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian karena banyaknya pelaku usaha obat tradisional yang baik di wilayah ini. BPOM berkomitmen untuk memfasilitasi pertumbuhan mereka agar lebih cepat.

    Saat ini, PPJAI telah melakukan terobosan dengan digital marketing. Hal tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk lebih baik.

    “Kami berharap obat berbahan alam semakin maju tidak hanya di dalam negeri tetapi juga berkualitas untuk ekspor. Ini yang akan kami carikan solusinya, bagaimana cara menuju akses pasar global,” ujarnya.

    Oleh karena itu, kegiatan pendampingan secara berkala rutin dilakukan, karena pendaftaran secara online sering menimbulkan perbedaan persepsi yang tidak sesuai dengan persyaratan. Oleh karenanya, harus diselesaikan dengan bertemu langsung antara pemohon dan petugas registrasi.

    BPOM mendorong PPJAI agar bisa menaikkan level jamu menjadi obat herbal standar hingga fitofarmaka, dengan cara uji klinik yang terbukti khasiatnya serupa dengan obat kimia.

    “Agar para tenaga medis, terutama dokter, semakin yakin memanfaatkan jamu di pelayanan kesehatan, kami mendorong agar jamu dikembangkan dan dipasarkan lebih lanjut, tanpa harus menunggu menjadi fitofarmaka, sehingga naik menjadi obat herbal standar,” terangnya.

    Bendahara PPJAI, Nur Cholis, menyatakan kegiatan ini sangat membantu pengusaha jamu untuk mengetahui regulasi aturan yang baru.

    “Dulu sistem offline, semua berkas dibawa ke Jakarta dan bertemu langsung sehingga saat itu juga bisa revisi. Sedangkan sekarang dengan sistem online, kadang ada miskomunikasi dengan BPOM, jadi pertemuan ini sangat membantu. Karena kita masih berpatokan pada aturan yang lama sehingga izin tidak keluar-keluar. Jadi kita harus selalu memperbarui peraturan yang baru sehingga tahu apa yang boleh dan tidak boleh,” kata Nur Cholis.

    Sementara itu, Komisaris Tresno Jamu Indonesia Tatang Mulyadi menyatakan bahwa pihaknya mendukung program BPOM, termasuk peningkatan aspek produksi di pabrik TJI.

    “Kami bangga menjadi contoh industri obat alam di wilayah Banyumas Raya. Kami akan terus mendorong dan mendukung di bagian produksi untuk mewujudkan program BPOM, salah satunya di Cilacap ada yang full aspek,” katanya. Redaksi JamuDigital.Com

  • Guna Meningkatkan Kualitas Produk Herbal, PPJAI Bekerjasama Dengan BPOM Melakukan Pelatihan Sinergisitas Penta Heliks

    Guna Meningkatkan Kualitas Produk Herbal, PPJAI Bekerjasama Dengan BPOM Melakukan Pelatihan Sinergisitas Penta Heliks

    Cilacap – (22/09) Dialog perkembangan herbal nusantara yang adakan atas inisiasi Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) dan juga BPOM dengan tema Sinergisitas Penta Heliks, acara ini digelar selama 2 hari dan di ikuti oleh para pelaku usaha jamu dan juga BPOM kabupaten cilacap, bayumas, purbalingga dan banjarnegara.

    Acara yang berlangsung selama dua hari satu malam tersebut melibatkan lima komponen yaitu Loka POM Banyumas, Dinas Kesehatan, Pelaku Usaha Jamu, Akademisi dan Tokoh Masyarakat. Dilaksanakannya kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan jamu herbal nusantara, khususnya di Banyumas Raya dengan menghasilkan produk tanpa Bahan Kimja Obat (BKO).

    Dalam kegiatan tersebut melibatkan enam narasumber yaitu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Direktur PMPU Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, Anggota DPR RI Komisi IV Ibu Hj. Teti Rohatiningsih, S.Sos,Dosen Peneliti Jurusan Farmasi Ibu Prof. Dr. Dra. Warsinah, Apt., M.Si., Ketua Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Cilacap. 

    Tak hanya itu, dalam kegiatan Dialog Pengembangan Herbal Nusantara melalui Perkuatan Sinergisitas Penta Heliks tersebut dihadiri sekitar 190 peserta yang diikuti oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara, Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, IAI Cabang Banyumas, IAI Cabang Purbalingga, IAI Cabang Banjarnegara, IAI Cabang Cilacap, PAFI Cabang Banyumas, PAFI Cabang Purbalingga, PAFI Cabang Banjarnegara, PAFI Cabang Cilacap, Akademisi dari Unsoed, UMP, LPPM Unsoed, SMK Karya Teknologi Jatilawang, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Cilacap, Anggota Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI), Loka POM Banyumas serta Duta Jamu Aman Kabupaten Banyumas Tahun 2022. Dalam acara tersebut CV Bumi Wijaya dan Loka POM Banyumas berperan sebagai fasilitator keberlangsungan acara.

    Kegiatan hari pertama Perkuatan Sinergisitas Penta Heliks diawali dengan apel pagi yang dilaksanakan peserta bersama Tim Kopassus Amirul Isnaeni, Cilacap, Jawa Tengah. Setelah apel pagi dilanjutkan dengan kegiatan Diklat Bela Negara yang dipandu oleh Tim Kopassus di Markas Kopassus. Setelah kegiatan diklat bela negara yang dilaksanakan di Markas Kopassus selesai, kegiatan disambung dengan bakti sosial yang bertempat di Lapas Batu, Nusakambangan dan dilanjutkan dengan diklat bela negara lanjutan yang diadakan di Pantai Permisan, Nusakambangan.
    Hari kedua, diawali dengan upacara pembuakaan serta sambutan oleh Kutua PPJAI Mukit Hendrayatno selaku pemimpin upacara. Prosesi upacara pembukaan dilaksanakan di Markas Kopassus Amirul Isnaini. Penandatanganan Komitmen Pengembangan Herbal Nusantara, Minum Jamu serta foto bersama menjadi bagian dalam kegiatan upacara tersebut. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan Dialog Pengembangan Jamu Nusantara serta Pelatihan CPOTB bertahap. Kegiatan Dialog Pengembangan Herbal Nusantara melalui Perkuatan Sinergisitas Penta Heliks ditutup dengan sesi penyerahan hadiah bela negara dan penyerahan plakat kepada narasumber.
  • Loka POM di Kabupaten Banyumas bersama PPJAI Selenggarakan Bimtek CPOTB bagi Linsek dan Pelaku Usaha Jamu

    Loka POM di Kabupaten Banyumas bersama PPJAI Selenggarakan Bimtek CPOTB bagi Linsek dan Pelaku Usaha Jamu

    Banyumas – Kamis (08/06), Loka POM di Kabupaten Banyumas bersama PPJAI (Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia) menyelenggarakan Bimtek CPOTB secara daring dan luring bagi lintas sektor dan Pelaku Usaha Jamu. Dihadiri oleh Direktur PMPU OTSK dan Kosmetik BPOM RI, Dra. Asih Liza Restanti. Apt., M.Kes dan Tim Kedeputian Bidang Pengawasan OTSK BPOM RI. Tujuan di selenggarakannya Bimtek CPOTB ini adalah untuk meningkakan pertumbuhan UMKM di bidang obat tradisional yang legal sesuai peraturan perundang-undangan diantaranya memiliki penanggungjawab kefarmasian, baik Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) maupun Tenaga Apoteker, serta untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha dalam menerapkan aspek CPOTB.
    Acara diikuti oleh 70 peserta luring dan 210 peserta daring. Peserta luring merupakan Pemilik dan Penanggungjawab UMKM Obat Tradisional, Dinas Kesehatan, Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Akademisi dan Organisasi Profesi (Ikatan Apoteker Indonesia dan Perhimpunan Ahli Farmasi Indonesia) di Area Banyumas Raya, sedangkan peserta daring tersebar dari seluruh Indonesia. Rangkaian acara dimulai dengan sambutan dari Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI. Acara inti diisi dengan Narasumber dari Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik serta Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI dengan tema Dialog Pendampingan UMKM OT dan Pemanfaatan Bahan Alam berbasis Kearifan Lokal sebagai Bahan Baku UMKM OT, dan Bimtek mengenai Alur Sertifikasi CPOTB Bertahap, dan Pemaparan Aspek Aspek CPOTB Bertahap bagi penanggung jawab teknis Obat Tradisional.
    Badan POM berkomitmen untuk mendukung perkembangan pelaku usaha terutama UMKM di Bidang Obat Tradisional, Kosmetik, dan Pangan. Pelaku usaha dapat menghubungi UPT terdekat di masing-masing daerah untuk memperoleh pendampingan dan informasi terkait pengurusan sertifikat CPOTB bertahap dan pendaftaran izin edar.